PADANG — Universitas Mercubaktijaya (UMCB) turut berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pembelajaran Pra Nikah bagi Perguruan Tinggi dan SMA/SMK/MAN Sederajat” yang digelar pada Rabu, 19 Agustus 2026, di Ruang Pola Kantor Gubernur Sumatera Barat.
UMCB diwakili oleh Kepala UPP, Ns. Weny Amelia, M.Kep., Sp.Kep.MB., bersama dosen Program Studi Kebidanan, Widya Lestari, S.SiT., M.Keb. Kehadiran UMCB menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung penguatan pendidikan pranikah bagi generasi muda.
FGD tersebut menjadi ruang kolaborasi strategis yang mempertemukan unsur pemerintah, perguruan tinggi, Kementerian Agama, BKKBN, sekolah, keluarga, tokoh agama, ninik mamak, cadiak pandai, serta para pakar. Forum ini membahas arah pengembangan model pembelajaran pranikah yang relevan dengan kebutuhan generasi muda dan tantangan kehidupan keluarga saat ini.
Sejumlah persoalan yang berkaitan dengan ketahanan keluarga menjadi perhatian dalam pembahasan, di antaranya kekerasan terhadap perempuan dan anak, perkawinan anak, perceraian, serta penyalahgunaan narkoba. Selain itu, peserta FGD menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda dari berbagai aspek sebelum memasuki kehidupan pernikahan, meliputi kesehatan reproduksi, mental, spiritual, sosial, dan ekonomi.
Pembelajaran pranikah dinilai tidak semata-mata bertujuan memberikan pemahaman mengenai kehidupan pernikahan, tetapi juga menjadi upaya mempersiapkan generasi muda agar mampu membangun keluarga yang sehat, tangguh, harmonis, dan bertanggung jawab.
Dalam FGD tersebut, sejumlah arah pengembangan pembelajaran pranikah turut menjadi perhatian. Di antaranya, perumusan kompetensi yang perlu dimiliki generasi muda sebelum menikah, struktur pembelajaran untuk jenjang SMA/SMK dan perguruan tinggi, serta pengembangan modul dan bahan ajar yang mudah dipahami dan menarik bagi peserta didik.
Selain materi, metode pembelajaran kreatif dan relevan dengan karakter generasi muda juga dinilai penting. Pengembangan instrumen untuk mengukur kesiapan dan pemahaman peserta menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan agar pelaksanaan pembelajaran pranikah dapat dievaluasi secara terukur.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat turut mendorong agar pembelajaran pranikah dapat dikembangkan sebagai muatan lokal maupun kegiatan ekstrakurikuler di satuan pendidikan. Materi yang diberikan diharapkan mencakup pendidikan kesehatan reproduksi, komunikasi dalam keluarga, kesiapan ekonomi, kesiapan mental dan spiritual, serta pemahaman mengenai peran dan tanggung jawab dalam kehidupan pernikahan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan pembelajaran pranikah yang komprehensif. Sinergi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, keluarga, Kementerian Agama, tokoh agama, ninik mamak, cadiak pandai, dan para pakar diharapkan mampu menghadirkan pendekatan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya dan kebutuhan generasi muda Sumatera Barat.
Partisipasi UMCB dalam forum tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia dan ketahanan keluarga. Melalui keterlibatan akademisi dalam perumusan pembelajaran pranikah, diharapkan lahir model pendidikan yang tidak hanya informatif, tetapi juga aplikatif dan mampu membekali generasi muda menghadapi kehidupan berkeluarga.
Melalui kolaborasi tersebut, Sumatera Barat diharapkan dapat mengambil bagian dalam mempersiapkan generasi yang lebih matang secara pengetahuan, mental, kesehatan, sosial, spiritual, dan ekonomi sebelum membangun keluarga. Keluarga yang berkualitas diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.